Ilmu Pengetahuan dan Agama;
Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Agama
Telah
kita kaji hubungan antara sisi manusiawi manusia dan sisi hewaninya.
Dengan kata lain, hubungan antara kehidupan budaya serta spiritual
manusia dan kehidupan materialnya. Kini sudah jelas bahwa sisi manusiawi
manusia itu eksistensinya independen dan bukanlah sekadar cermin
kehidupan hewaninya. Juga sudah jelas bahwa ilmu pengetahuan dan agama
merupakan dua bagian pokok dari sisi manusiawi manusia. Kini marilah
kita telaah keterkaitan yang terjadi atau yang dapat terjadi antara dua
segi dari sisi manusiawi manusia itu.
Di
dunia Kristiani, sayangnya, bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama
mengajukan gagasan, bahwa terjadi kontradiksi antara ilmu pengetahuan
dan agama. Dasar dari gagasan ini—yang sangat merugikan ilmu pengetahuan
dan agama—adalah Kitab Kejadian, Perjanjian Lama. Dalam meriwayatkan “Kisah Adam dan Pohon Terlarang”. Kitab Kejadian, Bab II, ayat 16-17 mengatakan:
“Dan
Tuhan Allah memberikan perintah kepada lelaki itu, dengan mengatakan,
“Dari setiap pohon di surga, engkau boleh leluasa makan (buahnya). Namun
untuk pohon pengetahuan tentang baik dan buruk, engkau tidak boleh
makan (buahnya). Karena kalau engkau makan (buah) dari pohon itu, engkau
pasti akan mad.”
Dalam Bab II, ayat 1-7 dikatakan:
“Kini
naganya lebih canggih ketimbang binatang buas sawah yang diciptakan
Tuhan Allah. Dan dia berkata kepada wanita itu, “Ya, Tuhan telah
berfirman, engkau tak boleh makan dari setiap pohon di surga?” Dan
wanita itu berkata kepada sang naga, “Kita boleh makan buah dari
pohon-pohon di surga. Namun untuk buah dari pohon yang ada di
tengah-tengah surga, Tuhan telah berfirman, engkau tidak boleh makan
buah itu, juga tak boleh menyentuhnya, agar engkau tidak mati.” Dan sang
naga berkata kepada sang wanita, “Tentu saja engkau dilarang, karena
Tuhan tahu bahwa begitu engkau makan (buah itu), maka kedua matamu akan
terbuka, dan engkau pun akan seperti dewa, tahu mana yang baik dan mana
yang buruk.” Dan ketika sang wanita tahu bahwa pohon itu baik untuk
makanan, dan bahwa pohon itu menyedapkan pandangan matanya, dan sebuah
pohon yang dibutuhkan untuk membuat orang jadi arif, wanita itu pun
memetik buah dari pohon itu, kemudian memakannya, dan juga memberikan
kepada suaminya, dan sang suami pun memakannya. Dan mata mereka pun
terbuka, dan mereka mendapati diri mereka telanjang. Lalu mereka
menjahit daun-daun ara untuk pakaian mereka’”.
Dalam ayat 22-23 dalam Bab yang sama dikatakan:
Dan
Tuhan Allah berfirman, “Lihatlah, lelaki itu menjadi seperti Kami, tahu
yang baik dan yang buruk. Dan kini, jangan sampai dia mengulurkan
tangannya, lalu memetik (buah) dari pohon kehidupan, kemudian makan
(buah itu), dan hidup abadi.”
Menurut
konsepsi tentang manusia, Tuhan, ilmu pengetahuan dan kedurhakaan ini,
Tuhan tidak mau kalau manusia sampai tahu yang baik dan yang buruk.
Pohon Terlarang adalah pohon pengetahuan. Manusia baru dapat memiliki
pengetahuan kalau dia menentang perintah Tuhan (tidak menaati ajaran
agama dan para nabi). Namun karena alasan itulah manusia terusir dari
surga Tuhan.
Menurut
konsepsi ini, semua isyarat buruk merupakan isyarat ilmu pengetahuan,
dan nalar merupakan iblis sang pemberi isyarat. Sebaliknya, dari
Al-Qur’an Suci kita menjadi mengetahui bahwa Allah mengajarkan semua
nama (realitas) kepada Adam, dan kemudian menyuruh para malaikat untuk
sujud kepada Adam. Iblis mendapat kutukan karena tak mau sujud kepada
khalifah Allah (Adam) yang mengetahui realitas. Hadis-hadis Nabi
menyebutkan bahwa Pohon Terlarang adalah pohon keserakahan, kekikiran
dan hal-hal seperti itu, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan sisi
hewani Adam, bukan berhubungan dengan sisi manusiawi Adam. Iblis selalu
mengisyaratkan hal-hal yang bertentangan dengan akal dan hal-hal yang
dapat memenuhi hasrat rendah (hawa nafsu). Yang mencerminkan iblis di
dalam diri manusia adalah hasrat seksual, bukan akal. Beda dengan semua
ini, yang kita temukan dalam Kitab Kejadian sungguh-sungguh sangat
mengherankan.
Konsepsi
ini telah membagi sejarah budaya Eropa selama 1500 tahun yang baru lalu
menjadi dua periode, yaitu “Zaman Agama” dan “Zaman Ilmu Pengetahuan”,
dan telah menempatkan ilmu pengetahuan dan agama saling bertentangan
satu sama lain.
Sebaliknya,
sejarah budaya Islam dibagi menjadi “Periode Kemajuan Ilmu Pengetahuan
dan Agama” dan Teriode Ketika Ilmu Pengetahuan dan Agama Mengalami
Kemunduran”. Kaum Muslim hendaknya menjauhkan diri dari konsepsi yang
salah ini, sebuah konsepsi yang membuat ilmu pengetahuan, agama dan ras
manusia mengalami kerugian yang tak dapat ditutup. Kaum Muslim juga
jangan secara membuta menganggap kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan
agama sebagai fakta yang tak terbantahkan. Bagaimana kalau kita
melakukan studi analisis terhadap masalah ini, kemudian kita lihat
apakah kedua segi dari sisi manusiawi manusia ini hanya ada pada periode
atau zaman tertentu, dan apakah manusia pada setiap zaman nasibnya
adalah hanya menjadi setengah manusia, dan selalu menderita akibat
keburukan yang terjadi karena kebodohan atau karena kedurhakaan.
Seperti
akan kita ketahui, setiap agama tentunya didasarkan pada pola pikir
tertentu dan konsepsi khusus tentang kosmos (jagat raya). Tak syak lagi,
banyak konsepsi dan interpretasi tentang dunia, meskipun boleh jadi
menjadi dasar dari agama, tidak dapat diterima karena tidak sesuai
dengan prinsip rasional dan prinsip ilmu pengetahuan. Karena itu,
pertanyaannya adalah apakah ada konsepsi tentang dunia dan interpretasi
tentang kehidupan yang rasional dan sekaligus sesuai dengan
infrastruktur sebuah agama yang sangat pada tempatnya?
Jika
ternyata konsepsi seperti itu memang ada, maka tak ada alasan kenapa
manusia sampai dianggap untuk selamanya ditakdirkan mengalami nasib
buruk akibat kebodohan atau kedurhakaan. Hubungan antara ilmu
pengetahuan dan agama dapat dibahas dari dua sudut pandang. Sudut
pandang yang pertama adalah kita lihat apakah ada sebuah agama yang
konsepsinya melahirkan keimanan dan sekaligus rasional, atau semua
gagasan yang ilmiah itu bertentangan dengan agama, tidak memberikan
harapan dan tidak melahirkan optimisme. Pertanyaan ini akan dibahas
nanti dalam “Konsepsi Tentang Kosmos”.
Sudut
pandang kedua yang menjadi landasan dalam membahas hubungan antara
agama dan ilmu pengetahuan adalah pertanyaan tentang bagaimana keduanya
ini berpengaruh pada manusia. Apakah ilmu pengetahuan membawa kita ke
satu hal, dan agama membawa kita kepada sesuatu yang bertentangan dengan
satu hal itu? Apakah ilmu pengetahuan mau membentuk (karakter) kita
dengan satu cara dan agama dengan cara lain? Atau apakah agama dan ilmu
pengetahuan saling mengisi, ikut berperan dalam menciptakan keharmonisan
kita semua? Baiklah, kita lihat sumbangan ilmu pengetahuan untuk kita
dan sumbangan agama untuk kita.
Ilmu
pengetahuan memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan. Agama memberi
kita cinta, harapan dan kehangatan. Ilmu pengetahuan membantu
menciptakan peralatan dan mempercepat laju kemajuan. Agama menetapkan
maksud upaya manusia dan sekaligus mengarahkan upaya tersebut. Ilmu
pengetahuan membawa revolusi lahiriah (material). Agama membawa revolusi
batiniah (spiritual). Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini dunia
manusia. Agama menjadikan kehidupan sebagai kehidupan manusia. Ilmu
pengetahuan melatih temperamen (watak) manusia. Agama membuat manusia
mengalami pembaruan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama memberikan
kekuatan kepada manusia. Namun, kekuatan yang diberikan oleh agama
adalah berkesinambungan, sedangkan kekuatan yang diberikan oleh ilmu
pengetahuan terputus-putus. Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula
agama. Ilmu pengetahuan memperindah akal dan pikiran. Agama memperindah
jiwa dan perasaan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama membuat manusia
merasa nyaman. Ilmu pengetahuan melindungi manusia terhadap penyakit,
banjir, gempa bumi dan badai. Agama melindungi manusia terhadap
keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik. Ilmu pengetahuan
mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan manusia
dengan dirinya. Kebutuhan manusia akan ilmu pengetahuan maupun agama
telah menarik perhadan kaum pemikir religius maupun pemikir sekular.
Dr. Muhammad Iqbal berkata:
“Dewasa
ini manusia membutuhkan tiga hal: Pertama, interpretasi spiritual
tentang alam semesta. Kedua, kemerdekaan spiritual. Ketiga,
prinsip-prinsip pokok yang memiliki makna universal yang mengarahkan
evolusi masyarakat manusia dengan berbasiskan rohani.”
Dari
sini, Eropa modern membangun sebuah sistem yang realistis, namun
pengalaman memperlihatkan bahwa kebenaran yang diungkapkan dengan
menggunakan akal saja tidak mampu memberikan semangat yang terdapat
dalam keyakinan yang hidup, dan semangat ini ternyata hanya dapat
diperoleh dengan pengetahuan personal yang diberikan oleh faktor
supranatural (wahyu). Inilah sebabnya mengapa akal semata tidak begitu
berpengaruh pada manusia, sementara agama selalu meninggikan derajat
orang dan mengubah masyarakat. Idealisme Eropa tak pernah menjadi faktor
yang hidup dalam kehidupan Eropa, dan hasilnya adalah sebuah ego yang
sesat, yang melakukan upaya melalui demokrasi yang saling tidak
bertoleransi. Satu-satunya fungsi demokrasi seperti ini adalah
mengeksploitasi kaum miskin untuk kepentingan kaum kaya.
Percayalah,
Eropa dewasa ini paling merintangi jalan kemajuan akhlak manusia.
Sebaliknya, dasar dari gagasan-gagasan tinggi kaum Muslim ini adalah
wahyu. Wahyu ini, yang berbicara dari lubuk hati kehidupan yang paling
dalam, menginternalisasi (menjadikan dirinya sebagai bagian dari
karakter manusia dengan cara manusia mempelajarinya atau menerimanya
secara tak sadar—pen.) aspek-aspek lahiriahnya sendiri. Bagi kaum
Muslim, basis spiritual dari kehidupan merupakan masalah keyakinan. Demi
keyakinan inilah seorang Muslim yang kurang tercerahkan pun dapat
mempertaruhkan jiwanya. “Reconstruction of Religious Thought in Islam” (Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam).
Will Durant, penulis terkenal “History of Civilization” (Sejarah Peradaban), meskipun dia bukan orang yang religius, berkata:
“Beda
dunia kuno atau dunia purba dengan dunia mesin baru hanya pada sarana,
bukan pada tujuan. Bagaimana menurut Anda jika ternyata ciri pokok
seluruh kemajuan kita adalah peningkatan metode dan sarana, bukan
perbaikan tujuan dan sasaran?”
Dia juga mengatakan: “Harta
itu membosankan, akal dan kearifan hanyalah sebuah cahaya redup yang
dingin. Hanya dengan cintalah, kelembutan yang tak terlukiskan dapat
menghangatkan hati.”
Kini
kurang lebih disadari bahwa saintisisme (murni pendidikan ilmiah) tidak
mencetak manusia seutuhnya. Saintisisme melahirkan setengah manusia.
Pendidikan seperti ini hanya menghasilkan bahan baku untuk manusia,
bukan manusia jadi. Yang dapat dihasilkan pendidikan seperti ini adalah
manusia unilateral, sehat dan kuat, namun bukan manusia multilateral dan
bajik. Semua orang kini menyadari bahwa zaman murni ilmu pengetahuan
sudah berakhir. Masyarakat sekarang terancam dengan terjadinya
kekosongan idealistis. Sebagian orang bemiaksud mengisi kekosongan ini
dengan murni filsafat, sebagian lainnya merujuk kepada sastra, seni dan
ilmu-ilmu humanitarian
Di
negeri Iran ada usulan agar kekosongan tersebut diisi dengan sastra
yang penuh kebajikan, khususnya sastra sufi karya Maulawi, Sa’di dan
Hafiz. Para pendukung rencana ini lupa bahwa sastra ini sendiri mendapat
ilham dan agama dan dan semangat agama yang penuh kebajikan, semangat
yang menjadikan agama menarik perhatian, yaitu semangat Islam. Kalau
tidak, mengapa sastra modern, meski ada klaim lantang bahwa sastra
modern itu humanistis, begitu hambar, tak ada roh dan daya tariknya.
Sesungguhnya kandungan manusiawi dalam sastra sufi kami, merupakan hasil
dan konsepsi Islami sastra tersebut tentang alam semesta dan manusia.
Seandainya roh Islam dikeluarkan dari mahakarya-mahakarya ini, maka yang
tersisa hanyalah kerangkanya saja.
Will
Durant termasuk orang yang menyadari adanya kekosongan itu. Menurutnya,
hendaknya sastra, filsafat dan seni mengisi kekosongan itu. Dia
berkata:
“Kerusakan
atau kerugian yang dialami oleh sekolah dan perguruan tinggi kita,
sebagian besar adalah akibat teori pendidikannya Spencer. Definisi
Spencer mengenai pendidikan adalah bahwa pendidikan membuat manusia
menjadi selaras dengan lingkungannya. Definisi ini tak ada rohnya, dan
mekanis sifatnya, serta lahir dari filsafat keunggulan mekanika. Setiap
otak dan jiwa yang kreatif menentang definisi ini. Akibatnya adalah
sekolah dan perguruan tinggi kita hanya diisi dengan ilmu-ilmu teoretis
dan mekanis, sehingga tak ada mata pelajaran sastra, sejarah, filsafat
dan seni, karena mata pelajaran seperti ini dianggap tak ada gunanya.
Yang dapat dicetak oleh suatu pendidikan yang murni ilmu pengetahuan
hanyalah alat. Pendidikan seperti ini membuat manusia tak mengenal
keindahan dan tak mengenal kearifan. Akan lebih baik bagi dunia
seandainya saja Spencer tidak menulis buku.”
Sangat
mengejutkan, meskipun Will Durant menganggap kekosongan ini
pertama-tama sebagai kekosongan idealistis yang terjadi akibat pemikiran
yang salah dan akibat tak ada kepercayaan kepada tujuan manusia, namun
dia masih saja berpendapat bahwa problem ini dapat dipecahkan dengan
sesuatu yang non-material, sekalipun mungkin imajinatif belaka.
Menurutnya, menyibukkan din dengan sejarah, seni, keindahan, puisi dan
musik dapat mengisi sebuah kekosongan. Kekosongan ini ada karena manusia
memiliki naluri mencari ideal dan kesempurnaan.
Dapatkah Ilmu Pengetahuan dan Agama Saling Menggantikan Tempat Masing-masing?
Telah
kita ketahui bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tak ada
pertentangan. Yang terjadi justru keduanya saling mengisi. Sekarang
timbul satu pertanyaan lagi: Mungkinkah keduanya mengisi tempat
masing-masing?
Pertanyaan
ini tidak perlu dijawab secara terperinci, karena kita sudah tahu peran
masing-masing (agama dan ilmu pengetahuan). Jelaslah bahwa ilmu
pengetahuan tak dapat menggantikan peran agama, karena agama memberikan
kasih sayang, harapan, cahaya dan kekuatan. Agama meninggikan nilai
keinginan kita, di samping membantu kita mewujudkan tujuan kita,
menyingkirkan unsur egoisme dan individualisme jauhjauh dari keinginan
dan ideal kita, dan meletakkan keinginan dan ideal kita itu di atas
fondasi cinta dan hubungan moral serta spiritual. Selain menjadi alat
bagi kita, pada dasarnya agama mengubah hakikat kita. Begitu pula, agama
juga tak dapat menggantikan peran ilmu pengetahuan. Melalui ilmu
pengetahuan kita dapat mengenal alam, kita dapat mengetahui hukum alam,
dan kita pun dapat mengenal siapa diri kita sendiri.
Pengalaman
sejarah menunjukkan bahwa akibat dari memisahkan antara ilmu
pengetahuan dan agama, telah terjadi kerugian yang tak dapat ditutup.
Agama haras dipahami dengan memperhatikan ilmu pengetahuan, sehingga
tidak terjadi pembauran agama dengan mitos. Agama tanpa ilmu pengetahuan
berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, dan tak dapat mencapai
tujuan. Kalau tak ada ilmu pengetahuan, agama menjadi alat bagi
orang-orang pandai yang munafik. Kasus kaum Khawarij pada zamah awal
Islam dapat kita lihat sebagai satu contoh kemungkinan ini. Contoh
lainnya yang beragam bentuknya telah kita lihat, yaitu pada
periode-periode selanjutnya, dan masih kita saksikan.
Ilmu
pengetahuan tanpa agama adalah seperti sebilah pedang tajam di tangan
pemabuk yang kejam. Juga ibarat lampu di tangan pencuri, yang digunakan
untuk membantu si pencuri mencuri barang yang berharga di tengah malam.
Itulah sebabnya sama sekali tak ada bedanya antara watak dan perilaku
orang tak beriman dewasa ini yang berilmu pengetahuan dan orang tak
beriman pada masa dahulu yang tidak berilmu pengetahuan. Lantas, apa
bedanya antara Churchill, Johnson, Nixon dan Stalin dewasa ini dengan
Fir’aun, Jenghis Khan dan Attila pada zaman dahulu?
Dapatlah
dikatakan bahwa karena ilmu pengetahuan adalah cahaya dan juga
kekuatan, maka penerapannya pada dunia material ini tidaklah khusus.
Ilmu pengetahuan mencerahkan dunia spiritual kita juga, dan
konsekuensinya memberikan kekuatan bagi kita untuk mengubah dunia
spiritual kita. Karena itu, ilmu pengetahuan dapat membentuk dunia dan
manusia juga. Ilmu pengetahuan dapat menunaikan tugasnya sendiri, yaitu
membentuk dunia dan juga tugas agama, yaitu membentuk manusia.
Jawabannya adalah bahwa semua ini memang benar, namun masalah pokoknya
adalah bahwa ilmu pengetahuan adalah alat yang penggunaannya tergantung
kepada kehendak manusia. Apa saja yang dilakukan oleh manusia, dengan
bantuan ilmu pengetahuan dia dapat melakukannya dengan lebih baik.
Itulah sebabnya kami katakan bahwa ilmu pengetahuan membantu kita
mencapai tujuan dan melintasi jalan yang kita pilih.
Jadi,
alat digunakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Sekarang pertanyaannya adalah, dengan dasar apa tujuan itu ditetapkan?
Seperti kita ketahui, pada dasarnya manusia adalah binatang. Sisi
manusiawinya merupakan kualitas (kemampuan) yang diupayakannya. Dengan
kata lain, kemampuan-kemampuan manusiawi yang dimiliki oleh manusia
perlu ditumbuh-kembangkan secara bertahap dengan agama. Pada dasarnya
manusia berjalan menuju tujuan egoistis dan hewaninya. Tujuan ini
material dan individualistis sifatnya. Untuk mencapai tujuan ini,
manusia memanfaatkan alat yang ada pada dirinya. Karena itu, dia
membutuhkan kekuatan pendorong. Kekuatan pendorong ini bukan tujuannya
dan juga bukan alatnya. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat
meledakkannya dari dalam, dan mengubah kemampuan terpendamnya menjadi
tindakan nyata. Dia membutuhkan kekuatan yang dapat mewujudkan revolusi
dalam hati nuraninya dan memberinya orientasi baru. Tugas ini tidak
dapat dilaksanakan dengan pengetahuan tentang hukum yang mengatur
manusia dan alam beserta isinya. Namun tugas ini baru dapat dilaksanakan
jika dalam jiwa manusia tertanam kesucian dan arti penting nilai-nilai
tertentu. Untuk tujuan ini manusia harus memiliki beberapa kecenderungan
yang mulia. Kecenderungan seperti ini ada karena cara pikir dan
konsepsi tertentu tentang alam semesta dan manusia. Cara pikir dan
konsepsi ini, serta muatan dimensi dan bukti cara pikir dan konsepsi
tersebut, tidak dapat diperoleh di laboratorium dan, seperti akan kami
jelaskan, berada di luar jangkauan ilniu pengetahuan.
Sejarah
masa lalu dan sekarang telah memperlihatkan betapa buruk akibat yang
ditimbulkan oleh pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama. Kalau ada
agama namun tak ada ilmu pengetahuan, maka arah upaya kaum humanitarian
adalah sesuatu yang tidak banyak membawa hasil atau tidak membawa hasil
yang baik. Upaya ini sering menjadi sumber prasangka dan obskurantisme
(sikap yang menentang ilmu pengetahuan dan pencerahan—pen.), dan
terkadang hasilnya adalah konflik yang membahayakan.
Kalau
ilmu pengetahuan ada namun agama tidak ada, seperti yang terjadi pada
sebagian masyarakat modern, maka segenap kekuatan ilmu pengetahuan
digunakan untuk tujuan menumpuk harta sendiri, memperbesar kekuasaan
sendiri, dan untuk memuaskan nafsu berkuasa dan nafsu mengeksploitasi.
Dua
atau tiga abad yang baru lalu dapat dipandang sebagai periode
mendewakan ilmu pengetahuan dan mengabaikan agama. Banyak intelektual
mengira bahwa segenap problem yang dihadapi manusia dapat dipecahkan
dengan ilmu pengetahuan, namun pengalaman telah membuktikan sebaliknya.
Dewasa ini semua intelektual sepakat bahwa manusia membutuhkan agama.
Meskipun agama itu tidak religius, namun yang jelas di luar ilmu
pengetahuan. Sekalipun pandangan Bertrand Russel, materialistis, namun
dia mengakui bahwa: “Kerja yang semata-mata bertujuan memperoleh
pendapatan, maka kerja seperti itu tak akan membawa hasil yang baik.
Untuk tujuan ini harus diadopsi profesi yang menanamkan pada individu
sebuah agama, sebuah tujuan dan sebuah sasaran.”[6]
Dewasa
ini kaum materialis merasa terpaksa mengklaim diri sebagai kaum yang
secara filosofis materialis dan secara moral idealis. Dengan kata lain,
mereka mengatakan bahwa mereka adalah kaum materialis dari sudut pandang
teoretis, dan kaum spiritualis dari sudut pandang praktis dan
idealistis. Bagaimanapun juga, problemnya tetap: mana mungkin seorang
manusia secara teoretis materialis dan secara praktis spiritualis?
Pertanyaan ini harus dijawab oleh kaum materialis sendiri.
George
Sarton, ilmuwan dunia yang termasyhur, penulis buku yang terkenal,
“History of Science” (Sejarah Ilmu Pengetahuan), ketika menguraikan
ketidakberdayaan ilmu pengetahuan mewujudkan hubungan antar umat
manusia, dan ketika menegaskan kebutuhan mendesak akan kekuatan agama,
berkata:
“Di
bidang-bidang tertentu, ilmu pengetahuan berhasil membuat kemajuan yang
hebat. Namun di bidang-bidang lain yang berkaitan dengan hubungan antar
umat manusia, misalnya bidang politik nasional dan internasional, kita
masih menertawakan diri kita.”
George
Sarton mengakui bahwa kayakinan yang dibutuhkan oleh manusia adalah
keyakinan yang religius. Menurutnya, kebutuhan ini merupakan satu di
antara tiga serangkai yang dibutuhkan oleh manusia: seni, agama dan
ilmu pengetahuan. Katanya,
“Seni
mengungkapkan keindahan. Seni adalah kenikmatan hidup. Agama berarti
kasih sayang. Agama adalah musik kehidupan. Ilmu pengetahuan berarti
kebenaran dan akal. Ilmu pengetahuan adalah had nurani umat manusia.
Kita membutuhkan ketiganya: seni, agama dan ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan mutlak diperlukan, meskipun tidak pernah memadai.” (George Sarton, Six Wings: Men of Science in the Renaissance, hal. 218. London, 1958)